Dua buah tulisan ini terus terang selain terinspirasi dari kejadian-kejadian yang saya alami, juga berasal dari kebiasaan saya memanfaatkan internet banking untuk berbagai transaksi. Apa hubungannya? Oya tentu saja ada. Internet itu kan daerah yang paling terbuka. Segala hal bisa ditemukan di internet.
Dengan kata lain, menjaga kerahasiaan di internet sangat suit. Apa jaminannya transaksi yang saya lakukan tidak disadap oleh pihak lain? Atau lebih dasar lagi, apa jaminannya situs internet banking yang saya kunjungi benar-benar milik bank yang bersangkutan? Sepertiyang terjadi pada Bank Niaga beberapa waktu yang lalu.
Saya pernah baca (lupa sumbernya) kalau internet banking di Indonesia didesain agar para nasabah merasa nyaman menggunakannya, dengan mengurangi faktor keamanan. Untuk faktor kenyaman terus terang saya setuju, sangat terbantu dengan internet banking yang mudah digunakan ini. Tapi untuk faktor keamanan, mudah-mudahan saja hal ini tidak benar. Akan jadi aneh kalau keamanan dikesampingkan demi kenyamanan tersebut. Nyaman memang perlu, tapi tentunya kita tidak ingin kenyamanan itu menjadi sia-sia akibat keamanan yang kurang.
Memangnya seberapa nyaman penggunaan internet banking di Indonesia? Dari beberapa bank yang saya tau, ada yang menggunakan alat yang bernama token sebagai PIN generator untuk otorisasi transaksi. Maksudnya, alat itu akan mengeluarkan serangkaian angka berdasarkan input angka tertentu yang digunakan selayaknya kode PIN. Kalau mau tau lebih jelasnya, silakan kunjungi halaman demo internet banking dari Bank Mandiri. Di sana bisa dilihat bagaimana dan dimana token digunakan. Cukup mudah menggunakannya. Yang saya tau, token ini digunakan di Bank Mandiri, BCA, dan BNI. Entah bank yang lainnya, belum pernah liat.
Token BCA dan BNI saya tau diproduksi perusahaan yang sama, terlihat dari bentuk dan informasi yang ada di alat tersebut. Nah, penasaran, kalau kedua token dari dua bank yang berbeda tersebut diberikan input angka yang sama, apakah akan muncul angka yang sama pula. Beruntung, ternyata hasilnya tidak sama. Jumlah digit yang dihasilkan masing-masing token tidak sama. Angka yang keluar pun berbeda sama sekali. Akan jadi hal yang aneh kalau ternyata hasilnya sama persis. Kalau saja seperti itu, pasti saya langsung berhenti menggunakan internet banking.
Lain lagi dengan Bank Syariah Mandiri (BSM). BSM ini tidak menggunakan token untuk meng-generate PIN otorisasi, tapi setiap pengguna diberikan sekitar 100 nomor PIN otorisasi yang dicetak di atas kertas. Bila seluruh nomor ini habis digunakan, pengguna harus meminta lagi kepada BSM. Belum sepraktis penggunaan token, tapi masih cukup nyaman untuk digunakan.
Itu di Indonesia. Bagaimana mekanisme internet banking di negara lain? Dibandingkan di luar negeri, apa benar faktor keamanan internet banking di Indonesia ini jadi nomor dua?
Kalau memang tidak aman, apa sebaiknya penggunaan internet banking dihindari? Terus terang sangat sulit untuk tidak menggunakan internet banking. Pada kondisi harus selalu stand by saat jam kerja, internet banking sangat membantu dalam melakukan semua transaksi, tidak perlu keluar ruangan untuk membayar tagihan ponsel atau sekedar membeli pulsa isi ulang.
Pada akhirnya memang faktor kenyamanan dan kemudahan itu yang membuat saya terus memanfaatkan internet banking ini. Bagaimana dengan keamanan? Sampai saat ini yang bisa dilakukan adalah dengan berhati-hati dalam mengakses situs-situs internet banking. Memastikan bahwa halaman yang diakses benar-benar halaman asli dari bank yang bersangkutan, dengan melihat alamat yang tertera pada address bar sebelum login. Fitur bookmark pada browser juga bisa dimanfaatkan untuk menghindari salah ketik. Dua cara ini dilakukan demi menghindari penipuan seperti yang terjadi pada Bank Niaga dan BNI.
Setelah itu, berharap saja sistem yang diterapkan oleh bank bisa menjaga kerahasiaan dan keamanan transaksi yang kita lakukan.
0 comments:
Post a Comment